Kamis, 06 November 2008

Terimakasih Allah,Engkau sayang sekali padaku

Judul di atas mungkin terlihat narsis, kok geer banget ya kalo kita disayang BANGET oleh Allah. Tapi, tulisan ini bukan bertujuan narsis binti geer alias ngerasa paling disayang Allah. Hanya saja itu adalah bentuk syukur yang bisa saya lakukan. Sebuah sikap yang terindah yang bisa saya ungkapkan karena diantara banyak kesulitan yang saya hadapi, Allah juga menyertakan banyak kemudahan.
Begini ceritanya, saya baru saja menyelesaikan ujian di bagian pediatri (bagian anak). Seminggu sebelum ujian saya harus mengganti 5 hari karena cuti setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang mungkin ngga bisa saya lupakan seumur hidup karena hampir saja merenggut nyawa saya. Kecelakaan yang membuat saya sempat amnesia (lupa ingatan) dan menimbulkan gegar otak ringan. Tapi Allah ternyata Maha sayang. Dia masih memberi kesempatan saya untuk hidup sampai saat ini. Kesempatan berharga untuk menambah amalan dan bertaubat atas semua dosa yang saya lakukan. Saya kadang terlambat menyadari hikmah di balik semua peristiwa yang dialami. Lebih tepatnya saya sering memvonis kalau diri saya adalah yang paling susah di dunia (hehe.. melas banget sih). Tapi, tidak begitu sebenarnya. Allah menunjukan hikmahnya beberapa lama setelah kecelakaan itu. Salah satunya adalah saat ujian tadi. Awalnya saya menyesal kenapa saya dulu harus mengalami kecelakaan, kenapa saya harus ujian sendirian, kenapa saya mendapatkan kasus ujian yang sulit dan itu bukan kompetensi dokter umum. Saya dapat kasus pasien dengan hemofilia!! Ya Allah, kaget bukan main waktu tau dapat pasien itu. Saya juga bingung, apa boleh saya ambil darah pasien ini? padahal pasien hemofilia tidak boleh luka. Tapi aku berusaha tenang dan yakin Allah pasti bantu dan akan memudahkan apa yang sulit untuk saya. Bismillah...
Dan mulailah kemudahan itu datang, subhanallah... Seorang perawat yang ramah menghampiri saya menawarkan bantuan untuk mengambilkan darah dari pasien tersebut. Lalu datang lagi kemudahan lain, ternyata orang tua dan si anak sangat kooperatif sekali dengan saya. Orang tua pasien sangat wellcome dan mau menjawab semua pertanyaan sedetail detailnya. (padahal jarang sekali orangtua pasien yang kooperatif seperti ini) dan si anak bersedia diambil darahnya tanpa acara menangis atau harus dirayu rayu dulu. Alhamdulillah satu langkah terewati..
Selanjutnya, saat bertemu dokter pembimbing saya kembali lega karena beliau bukan termasuk orang yang suka mempersulit. Justru proses ujian tadi begitu mudah. Dan terakhir adalah saat menghadap dosen penguji, beliau bertanya lebih dulu sebelum mengujiku. Begini katanya " Bagaimana perasaanmu dapat kasus ini?" Saya spontan menjawab, " Saya kaget mendapat kasus ini. Ini bukan kompetensi dokter umum, tapi saya mungkin bakal dapat kasus seperti ini di masyarakat nanti." Beliau tertawa mendengar jawaban saya dan berkomentar "Marahi saja yang ngasih kamu kasus ini." candanya. Dan setelah ditanya beberapa hal tentang pasien ini, akhirnya ujian selesai. Alhamdulillah saya lulus.
Saya ingat firman Allah surat Al-Insyirah yang berbunyi : "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" " Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" sampai diulang dua kali karena diantara banyak kesulitan akan banyak pula kemudahan. Allahu Akbar!! Dan saat teringat hal itu aku berkata spontan "Terima kasih banyak ya Allah, Engkau sayang sekali padaku.Terima kasih ya Allah..."

Tidak ada komentar: