Seorang teman pernah bilang,
kalau punya sahabat itu hidup kita pasti jadi lebih indah.
Saya setuju.
Karena saya merasakan indahnya bersahabat.
Saya jadi teringat kepada seorang sahabat saya di Surabaya.
Awalnya saya dan dia tidak sering berinteraksi.
Bukan tidak akrab, tapi dia sangat pendiam dan (kata teman2 saya) saya juga agak kalem.
Jadi otomatis kami jarang ngobrol atau hanya bercanda sekalipun.
Persahabatan kami berawal saat saya dan dia tinggal di rumah
kontrakan yang sama hingga kami selesai kuliah.
Saat itu pertengahan semester tujuh.
Saya tidak menyangka, itu adalah awal dimana
ada seorang akhwat yang begitu tulus
menjadi sahabat paling istimewa dan tidak terlupakan.
Saya berlebihan?
Tidak!
Karena kalau diantara anda pernah punya sahabat seperti ini, maka anda akan mengatakan hal yang sama dengan saya.
Dan saya sangat beruntung karena kami satu kontrakan selama hampir 3 tahun.
Apa yang membuat dia begitu istimewa?
Banyak. Saya tidak mungkin menceritakan satu-satu.
Cukuplah saya katakan bahwa dia tanpa pernah diminta selalu meringankan beban orang lain
(bukan hanya saya saja lho). Dan ketika saya dalam situasi paling sulitpun dia datang tanpa diminta.
Kepekaan perasaannya yang membuat dia selalu tanggap terhadap masalah sekecil apapun.
Tak ada tugas yang tidak beres di tangannya.
Kami pernah menemui masalah besar yang menurut saya sulit,
tetapi dengan ketekunannya dia menyelesaikannya dengan baik.
Kesantunannya sering membuat saya sungkan. Karena saya kadang ceplas ceplos dan berlebihan dalam bercanda.
Ketulusan dan kesederhanaan sikapnya sering membuat saya iri.
Dan yang paling membuat saya salut, kejujurannya.
Ada sesuatu yang tidak terlupakan.
Itu waktu saya sedang hamil besar.
Saat itu masih koas di bagian penyakit dalam & saya dan suami terpaksa masih tinggal berjauhan. Itu saat-saat yang sulit.
Sekarang saja saya masih belum percaya kalau dulu sanggup menjalaninya sendirian.
Ups, tidak sendirian!!
Di samping saya selalu ada sahabat saya ini. Dia seperti keluarga saya.
Seperti seorang adik yang menjaga kakaknya yang sedang hamil tua.
(Kebetulan umurnya memang lebih muda)
Saya selalu meneteskan airmata kalau ingat masa2 ini.
Itu memang masa yang sulit, tapi disanalah saya merasakan indahnya persahabatan.
Dia yang sering menghibur saya.
Mengajak saya ngobrol.
Menanyakan kehamilan saya tiap hari.
Menggantikan tugas2 piket saya di kontrakan.
Mengantarkan saya kontrol kehamilan ke rumah sakit.
Dan mengantarkan surat cuti saya ke rumah sakit.
Saya bersyukur, hingga sekarangpun persahabatan kami tidak terputus.
Walaupun kami sudah tidak satu kontrakan lagi,
tapi masih sempat berbagi cerita di sela2 kesibukan masing2.
Saat berpisah di stasiun kereta (waktu itu saya akan ke Bandung dan dia pulang ke kampung halamannya), entah kenapa, rasanya sedih sekali.
Seperti kehilangan saudara kandung.
Saya sangat berharap bisa bertemu lagi sahabat2 baru di Bandung. Tentunya bertemu juga dengan sahabat2 lama saya sewaktu SMA. Sahabat2 yang bisa membuat hidup kita lebiiih indah. Seperti kata teman saya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar