Beberapa hari yang lalu saya benar2 banyak mendapat banyak kebahagiaan. Tanggal 4 februari lalu, saya dinyatakan lulus dari FK tempat saya kuliah. Tanggal 10 februari saya dilantik sebagai dokter, dan ayah saya bisa menghadirinya. Beliau sudah bisa berjalan dengan baik. Padahal, 3 bulan terakhir beliau tidak bisa berjalan karena penyakitnya yang sudah cukup parah. Alhamdulillah...
Benar2 bulan penuh syukur untuk saya.
Kelulusan saya di bulan ini benar2 pada waktu yang sangat tepat.
Saya seperti mendapatkan kembali "kehidupan saya yang sebenarnya."
Kenapa?
Karena satu tahun terakhir, adalah tahun penuh ujian berat untuk saya.
Dan bulan ini, Allah menghadiahkan banyak kebahagiaan tak terkira.
Saya bisa dekat lagi dengan buah hati saya, Nadia...
Bisa kembali ke Bandung, berkumpul lagi dengan keluarga setelah merantau selama 6 tahun.
Dan melihat abi sembuh dari sakit parahnya yang sudah berbulan-bulan.
Saya jadi teringat tentang bagaimana kita harus bersabar dan bersyukur di tengah kondisi yang Allah tetapkan untuk kita. Tema yang membuat saya tertarik untuk membahasnya kembali disini...
------------------------------------------------------------------------------------------------
Memaknai kasih sayang Allah bagi seorang mukmin adalah dengan sabar dan syukur. Sabar saat ujian kesulitan menghadapi mereka. Dan bersyukur saat kebahagiaan menghampiri mereka.
Bersabar di Tengah Ujian
Sabar menurut saya ibarat terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita. Melalui sikap ini kita disadarkan bahwa manusia tak mampu mengelola hidupnya secara pasti. Allah-lah yang mengurus segala urusan kita. Itulah makna kita membaca Alhamdulillahi Rabbil 'alamien. Artinya, bahwa yang mengatur segala urusan kita itu adalah Allah. Dengan demikian, bersama sabar kita menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks.
Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk selalu bersabar (tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir). Bahkan beliau mengatakan,"Sebagian dari iman adalah sabar". Rasulullah yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain.
Untuk menjadi seorang penyabar memang tidak mudah. Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli mengajak kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orang-orang yang sabar). Ibarat sabarnya seekor unta yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban berat di punuknya. Atau kesabaran kerbau ketika dengan tekunnya membajak lahan-lahan persawahan. Padahal kalau Allah mau, binatang-binatang itu menolak diperlakukan seperti itu oleh tuan-tuannya.
Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah bin Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat tenggelamnya Fir'aun bersama serdadunya di laut Merah ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dan kita juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu. Kalau saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh Suraqah, Musa sudah dipenggal oleh algojo-algojo Fir'aun dan Yunus tidak dikeluarkan lagi dari perut ikan buas itu.
Sehingga Allah mengabadikan mereka dalam al-Qur'an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Karena mereka sabar dalam menjalani hidup ini, tanpa berharap materi di dunia.
Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb mereka, Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki.
Bersyukur atas rahmat Allah
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl:18).
Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya.
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na'udzubillahi min dzalik…
Seringkali baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru ingat semasa sehat, bila kekurangan baru ingat masa-masa hidup cukup.
Mengaktualisasikan rasa syukur bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.
Mensyukuri nikmat menjadi sebuah kewajiban agar ia tidak sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika begitu, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw,
”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan janganlah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunnya kesehatan (yang engkau anugerahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).
Sabtu, 14 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
1 komentar:
subhanalloh,, jazakillah tausiahnya
Posting Komentar