Jaminan Kesehatan di Jepang
Salah satu yang membuat saya kagum dengan jaminan kesehatan di sini adalah tidak adanya diskriminasi dalam pemberian asuransi kesehatan. Diskriminasi dalam artian bahwa walaupun kami adalah penduduk asing tetapi tetap mendapatkan asuransi kesehatan dan pelayanan yang sama dengan penduduk setempat. Bahkan untuk anak2 yang belum sekolah SD ada kartu asuransi zero yen yang berarti anak2 bisa berobat tanpa membayar. Sebuah jaminan kesehatan untuk anak2 yang sangat baik menurut saya. Pemerintah Jepang memang sedang berusaha meningkatkan biaya asuransi untuk anak2 dan keluarga yang akan mempunyai anak. Tujuannya tentu untuk meningkatkan angka kelahiran. Karena angka kelahiran di Jepang sudah mendekati nol. Di beberapa kota, ada rumah sakit tertentu yang jika ibu melahirkan di rumah sakit tersebut tidak perlu membayar biaya apapun. Kenapa bisa begitu? Tebakan saya, mungkin biaya melahirkan di rumah sakit tersebut sama atau dibawah besar tunjangan melahirkan yang diberikan pemerintah jepang. Tahun ini tunjangan melahirkan sebesar 420.000 yen per ibu. Kalau ternyata biaya lebih besar dari tunjangan itu, maka pasien yang menambahkan kekurangannya.
Kartu asuransi bisa dipakai saat di rumah sakit atau di klinik manapun baik milik pemerintah maupun milik swasta. Sebuah kemudahan yang belum saya temui saat di Indonesia. Semoga suatu saat di Indonesia, minimal di kota - kota besar, bisa menerapkan kartu asuransi kesehatan yang all in one. Berlaku di manapun kita berobat.
Layanan Publik
Ketika saya menuliskan tentang Pelayanan publik di sini, dalam hati saya mengharapkan suatu saat kota kota di Indonesia bisa menirunya. Memang ada beberapa kota di tanah air yang sudah bagus pelayanan publiknya. Salah satunya adalah di kota Surakarta. Hanya saja saya belum pernah merasakan langsung mudah dan simpelnya prosedur pelayanan di sana.
Saya ingin berbagi pengalaman saat beberapa kali pergi ke Kuyakusho (setingkat kantor kecamatan) untuk mengurus administrasi kependudukan dan asuransi kesehatan. Di kuyakusho ini mirip dengan layanan satu atap. Mulai dari urusan ibu hamil sampai ngurus KTP semua diselesaikan di tempat ini.
Aturan di sini saat seorang ibu tau dirinya hamil, dia harus segera pergi ke dokter untuk di USG. Hasil USG itu nantinya dibawa ke Kuyakusho sebagai bukti bahwa si ibu sedang hamil dan taksiran persalinan dari dokter adalah tanggal X bulan Y. Kuyakusho kemudian akan memberikan buku catatan kesehatan ibu dan anak untuk diisi selama kehamilan, saat kontrol, dan setelah bayi lahir. Selain itu ibu hamil diberikan bushitecho (semacam voucher) yang digunakan untuk membantu meringankan biaya kontrol kehamilan. Ada juga gantungan khusus yang bergambar ibu hamil. Benda itu untuk digantung di tas si ibu. Idealnya saat seorang ibu hamil sedang di kendaraan umum, orang lain yang melihat tanda itu akan memprioritaskan sang ibu untuk bisa duduk. Tapi tak selalu seideal itu. Berberapa kali saat bepergian, orang2 memilih tetap duduk dan tidur tanpa mempedulikan ada ibu hamil di sekitarnya yang tidak kebagian tempat duduk.
Selain urusan ibu hamil, di kuyakusho ini ada juga pelayanan kesejahteraan untuk orang orang yang sudah sepuh, pengurusan KTP, kartu asuransi kesehatan, uang tunjangan untuk anak, dll. Kalaupun ada penduduk yang belum mengurus tunjangan untuk anak2nya, mereka mengirimkan formulir ke rumah untuk diisi dan dikirimkan kembali ke kuyakusho. Tujuannya agar anak tetap mendapatkan haknya.Tak hanya itu, untuk penduduk yang sudah berusia di atas 35 tahun, mereka akan mengirimkan anjuran untuk melakukan general check up di rumah sakit terdekat dengan biaya yang murah. Dengan pelayanan yang holistik seperti ini, saya kira wajar kalau tiap bulan kami membayar asuransi kesehatan karena uang itu tetap kembali kepada masyarakat. Tidak seperti di Indonesia yang uang asuransi kesehatannya di puter dulu untuk digandakan. Di sini uang asuransi di distribusi silang. Ketika diperlukan kapanpun dan dimana pun uang itu tetap ada.
Dalam hal inilah yang harus jadi perhatian para pelayan masyarakat di Indonesia. Saat mereka dipercaya menjadi komponen pemerintahan di kotanya masing2, saat itu seharusnya mereka menyiapkan mentalnya untuk menjadi pelayan masyarakat. Menyediakan layanan yang berkualitas karena tentunya mereka digaji dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan untuk itu, kita bisa belajar dari orang orang yang sudah sukses memberikan yang terbaik untuk masyarakat yang dipmpinnya
bersambung...
Rabu, 15 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar