Selasa, 14 September 2010

Catatan setahun di Jepang

Hari ini tepat sudah satu tahun saya tinggal di negeri sakura. Menemani suami yang sedang menempuh program doktoralnya di Tokyo Intsitute Technology. Alhamdulillah sekarang sudah masuk tahun kedua dan sudah submit paper. Walaupun begitu, saya tidak faham berapa paper lagi yang harus di-submit untuk bisa lulus. Semoga saja study-nya dilancarkan dan sensei suami yang baik hati itu meluluskan murid bimbingannya dengan mudah. hehe..

Setahun lalu, saya masih ingat, pertamakali mendarat di bandara Narita Tokyo. Disambut oleh suami tercinta. Suami saya begitu kurus. Katanya turun sampai 10 kg.Hemm.. Kesulitan cari makanan halal dan jauh dari istri.. Itu faktor utamanya.^_^ Dia bersama teman satu kampusnya datang dengan maksud menjemput ustadz yang diundang oleh KMII Jepang dan ternyata ustadz satu pesawat dengan saya. Beruntung sekali saya, karena saat itu ustadz begitu baik membantu saya membawakan tas2 besar yang saya bawa. Dan karena sekalian menjemput ustadz, saya jadi ikutan naik mobil mercy milik KBRI Tokyo menuju Annex (tempat ustadz menginap di Tokyo). Hmm.. Alhamdulillah...^_^


Banyak cerita dan pelajaran berharga dari negeri ini. Awal2 kedatangan saya ke Jepang sering membuat kagum dengan apa yang saya lihat dalam hal kebersihan, keteraturan, kesopanan, dan keamanannya. Kalau dalam pembinaan pribadi kita kenal 10 kriteria
-lihat di : http://www.scribd.com/doc/29478741/10-Muwashofat-Kader-Dakwah
Maka, beberapa teman di sini mengatakan kalau orang Jepang rata2 sudah memenuhi 7-8 kriteria. Tinggal salimul aqidah dan sohihul ibadah saja yang kurang. Begitu kata teman2 yang sudah belasan tahun tinggal di Jepang. Tak heran, bangsa yang mayoritas menganut Budha Shinto ini memang punya kebudayaan yang tinggi dan berkualitas dalam beberapa hal.

Dalam beberapa perjalanan saya keluar kota Tokyo dan saat berkeliling di kota tokyo, saya mengamati betapa kedisiplinan dan kesopanan kolektif itu sangat terjaga.
Saya katakan kolektif karena ketika masyarakat Jepang itu sedang berada di fasilitas2publik seperti stasiun, kereta, bis, kantor2 pemerintah, jalan raya, mall, restoran, dll.. mereka tertib dan taat pada aturan2 yang berlaku. Tetapi di sisi lain mereka punya kebiasaan yang kontras. Hal itu saya ketahui dari interaksi dengan masyarakat selama 1 tahun ini.Diantaranya adalah budaya "nomikai" atau minum minuman keras, adalah suatu hal yang biasa. Mulai dari kalangan profesor di kampus sampai anak2 SMA. Pornografi di sini pun sangat2 mengkhawatirkan. Istilahnya, kalau anak SMP punya buku/komik porno di rumahnya itu hal yang sudah biasa. Dan yang lebih parah begitu mudahnya pornografi didapatkan di sini. Buku2 porno dijual di supermarket macam indomart atau alfamart yang ada di hampir tiap perempatan di sini. Iklan2 di koran pun tak malu2 menampilkan foto wanita bugil plek. Tak heran kalau sudah punya anak yang masuk usia SMP, rata2 muslim Indonesia pulang ke tanah air demi menyelamatkan anak2nya.

Setahun di Jepang, benar2 sebuah pengalaman tak terlupakan. Pertamakalinya berumahtangga dalam artian sebenarnya (rumah sendiri dan berkumpul dengan anak2 dan suami), menjalani hari2 tanpa pembantu rumah tangga, belajar bahasa Jepang di kelas ibu2 sambil ngasuh anak2, dan berkenalan dengan komunitas istri-istri orang jepang dan muslimah2 Jepang.

Keterbatasan Komunikasi
Setahun di jepang, bertambah satu buah hati saya. Muhammad Faiq Alfirdaus yang lahir di Nissan Tamagawa Byouin. Pengalaman2 lucu muncul saat kontrol kehamilan dan melahirkan karena keterbatasan komunikasi. Saya baru tahu sangat sedikit dokter di Jepang yang bisa bahasa Inggris. Beruntung saya bertemu sensei yang bisa berbahasa Inggris dan Rumah sakit yang bagus. Tapi saat melahirkan, suster dan sensei yang menolong persalinan sangat kacau balau bahas Inggrisnya. Akhirnya kita pakai bahasa campuran. Pokoknya tau sama tau lah... Dan karena mereka tahu saya dokter, jadi tidak terlalu sulit buat menjelaskan ini itu. Yah, prinsipnya tau sama tau lah... Sama halnya dengan sekarang. Saat harus kontrol bulanan ke dokter anak, prinsipnya juga sama. Selama Faiq tumbuh normal, dokter tak banyak bicara. Dia hanya memberi info tentang jadwal imunisasi yang harus dijalani Faiq dengan bahasa Inggris yang terbata2. Dan saat kesulitan menjelaskan, dia akan menuliskan jadwal imunisasinya di kertas. Alhamdulillah sejauh ini semua lancar walaupun komunikasi sangat terbatas.

Ibu Rumahtangga Perkasa
Beberapa bulan yang lalu saat Faiq lahir, saya dikunjungi oleh mamah dan papap. Komentar mamah saat melihat saya mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri seperti ini : "Uyuhan, Wi.. Mamah mah asa moal kuat mun jiga Dewi" (terjemahan bebasnya: Kok bisa sih ngerjain semua sendiri. Kayaknya mamah ngga bisa kalo harus kayak dewi).
Hihi.. Alah bisa karena biasa.
Saya tentu bukan satu2nya ibu RT yang mengerjakan semua sendiri. Mempekerjakan pembantu di Jepang bukanlah hal yang murah dan tidak gampang. Standar gaji PRT di sini sekitar 200.000 yen atau sekitar 20 jutaan perbulan. Dan sangat jarang orang jepang yang punya pembantu. Mungkin hanya bos2 prusahaan dan keluarga kaisar saja yang punya pembantu. Entahlah...
Alhamdulillah, satu tahun di Jepang sudah membuat saya terbiasa hidup mandiri dalam mengerjakan pernak pernik rumah tangga. Bepergian kemanapun dengan kereta/bis dan jalan kaki sambil menuntun Nadia dan mendorong baby car Faiq.
Semua tetap menyenangkan.
Beberapa kali malah saya melihat ibu2 Jepang bersepeda dengan membawa 2 anak dan barang belanjaannya. Bayangkan, anak yang besar di bonceng di depan, anak yang lebih kecil digendong di punggung, dan keranjang belanjaan yang penuh di belakang. Tadinya mau saya foto. Tapi, etikanya disini kalau mau memoto orang harus minta izin dulu.
Waktu melihat ibu itu, saya mbatin "perkasa sekali ibu2 di sini". Mereka gesit dan tangguh. Luar biasa. Semoga aja menular ke saya. Amiiiin ^_^


Bersambung....

Tidak ada komentar: