Selasa, 27 Januari 2009

Mengapa Menikah Muda

Ada pertanyaan yang sering disampaikan pada saya selama menjalani dokter muda.

"Kenapa berani nikah muda?"

Pertanyaan yang selalu ada di setiap bagian yang saya lewati. Tak terkecuali saat di bagian anestesi kemarin. Biasanya yang semangat bertanya tentang pernikahan adalah adik2 kelas saya, angkatan 2003, 2004, atau 2005. Wajar saja, karena dari segi usia, mereka sudah memenuhi syarat untuk menikah. Namun, mereka belum tahu apakah sudah siap dari sisi yang lain. Dan hal itu yang selalu jadi topik perbincangan saya dengan mereka. Saya bersyukur, status saya yang sudah menikah sejak semester 7 menjadi bahan masukan positif untuk teman-teman dan adik kelas di kampus. Tidak hanya teman2 yang berstatus aktifis dakwah kampus yang notabene tidak pacaran, tapi termasuk teman2 dan adik2 kelas yang keliatannya sudah punya “some one special.”

Kenapa saya berani menikah muda? Sebuah pertanyaan yang membuat saya sempat merenung sejenak saat mendapat pertanyaan ini. Saya memang termasuk berani saat mengambil keputusan untuk menikah. Kondisi saya waktu itu masih berstatus mahasiswa kedokteran semester 7 dan belum mulai koass. Saya belum pernah mempertanyakan dari mana keberanian itu datang. Yang saya jalani saat akan menikah adalah berusaha menyiapkan diri secara fisik, mental, dan spiritual. Saya banyak berdoa pada Allah untuk mendapat yang terbaik sambil terus melakukan ikhtiar atau usaha yang dapat melancarkan pernikahan dan rumah tangga saya ke depan. Saya yakinkan diri bahwa selama kita berharap pada Allah, maka Allah tidak akan pernah mengecewakan saya. Saya selalu menjauhkan pemikiran – pemikiran negatif dan kemungkinan- kemungkinan buruk tentang pernikahan dan rumah tangga yang akan dijalani. Tetapi saya selalu menyiapkan diri untuk situasi yang sulit. Saya ingin membedakan antara pemikiran yang negatif, kemungkinan buruk, dengan situasi sulit. Saya percaya rumah tangga yang diawali dengan niat baik, prasangka positif, dan kesiapan menghadapi situasi sulit akan berbeda dengan pernikahan yang diawali sesuatu yang tidak baik. Oleh karena itu, saya mengusahakan di awal pernikahan semua hal berjalan dalam koridor yang baik, syar’i, serta diawali oleh niat dan prasangka yang baik.

Sedikit cerita, beberapa hari sebelum menerima biodata ikhwan yang sekarang menjadi suami, ibu saya yang sedang menjalankan ibadah haji menelpon dari Arafah bahwa ada seorang ikhwan yang berniat untuk menikah. Saya ditanya tentang kesiapan untuk menikah dengan ikhwan tersebut. Awalnya saya tidak percaya tawaran itu. Bagaimana mungkin orangtua yang sebelumnya mengijinkan saya menikah minimal setelah wisuda sarjana sekarang menawarkan seorang ikhwan, jauh sebelum saya mendapatkan gelar sarjana. Saat ibu saya akan pergi haji, saya memang menitipkan beberapa doa agar dibacakan saat di depan ka’bah. Salah satunya adalah doa agar saya diberi jodoh yang soleh, berpendidikan tinggi, dan bisa membawa saya ke surga. (Ah, saya jadi malu kalau mengingat doa ini. Malu karena begitu cepatnya Allah mengabulkan doa ini. Bersyukur juga karena Allah begitu sayang pada saya.) Singkat cerita, saat liburan kuliah saya pulang ke Bandung dan memproses pernikahan ini dalam waktu singkat. Satu bulan untuk taaruf hingga akad dan walimah. Semua berlangsung lancar. Tidak ada masalah dalam hal teknis maupun hal-hal prinsip.

Kembali ke pertanyaan di awal, apa yang membuat saya berani menikah muda? (Muda atau tidak sebenarnya relatif. Namun, untuk ukuran lingkungan saya di fakultas kedokteran, mungkin dinilai terlalu dini). Jujur saja, mungkin keberanian itu datang karena keinginan untuk menjaga diri dan menjauhi fitnah. Saya kuliah di luar kota, jauh dari orangtua, dan belajar di fakultas kedokteran yang interaksi antara laki2 dan perempuan cukup intens. Saya mulai merasakan ketidaknyamanan dalam interaksi di kampus. Saya juga selalu khawatir saat menyadari bahwa interaksi di rumah sakit lebih intens dibandingkan dengan di kampus. Oleh karena itulah, saya berani memutuskan untuk menikah. Saya ingin memiliki suami yang akan menjaga dan membimbing saya. Juga menjadi teman yang bisa menguatkan saya bagaimanapun kondisinya. Ini alasan pribadi. Tapi tak ada yang salah dari alasan ini karena pada dasarnya Allah menyuruh kita menikah untuk menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

Pertanyaan lain yang juga sering muncul : ‘Bagaimana bisa yakin kalau dia adalah jodoh saya?’
Ini pertanyaan yang sulit mencari jawabannya. Saya pun merasakannya. Jawaban atas pertanyaan ini adalah hasil dari proses panjang yang dinamakan tarbiyah (begitu istilah yang suami saya ungkapkan). Bukan semata-mata proses manusiawi. Tapi ada peran ilahi yang akan memberikan petunjuk bila memang sang ikhwan adalah jodoh kita. Kemantapan itu bisa berupa kemudahan-kemudahan yang dirasakan saat akan menikah, dukungan keluarga besar, atau kemantapan hati untuk menerima sang ikhwan. Semua orang menjalaninya dengan kondisi yang berbeda. Maka, kata kunci dari semua itu adalah kedekatan kita pada Allah. Tumpukan semua harapan pada Allah karena, sekali lagi saya sampaikan, kita tidak akan pernah kecewa selama berharap hanya pada Allah.

Tidak ada komentar: