Jumat, 16 Januari 2009

Zikrul Maut di RES

Sudah 3 minggu ini saya bertugas di bagian anestesi. Salah satu tugasnya adalah jaga di ruang resusitasi instalasi rawat darurat (IRD) RS dr.Soetomo, rumah sakit tempat saya menempuh Ko-ass dokter muda. Ada banyak hal yang saya lihat selama di sini. Selain juga rasa lelah dan ngantuk yang benar benar berlipat lipat rasanya. Dalam sehari, mungkin hanya tidur 2-3 jam. Itu kalau saya benar - benar kuat. Tapi kalau sudah tidak kuat, biasanya saya curi waktu untuk tidur di kamar Dokter Muda.

Beberapa hari di ruang resusitasi saya melihat banyak pasien meninggal. Mungkin bisa dibilang biasa karena pasien - pasien yang masuk ruangan ini rata-rata sudah stadium terminal. Tujuannya tentu saja hanya life support, mempertahankan hidup pasien, walaupun kualitas hidupnya tidak akan membaik.

Kematian yang sangat beragam. Kadang membuat saya menangis diam-diam, melihat kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Saya membayangkan kalau yang meninggal itu adalah keluarga saya. Pernah juga saya bergidik melihat pasien yang meninggal karena kecelakaan setelah minum alkohol. Perutnya kembung, baunya tidak enak, dan mati dalam kondisi yang mengenaskan. Ada juga bayi yang mati karena ketidaktahuan orang tua terhadap penyakit anaknya tersebut. Beberapa hari berada di ruangan itu membuat saya selalu mengingat kematian. Kematian yang terjadi begitu dekat dengan saya.

Pernah suatu kali saya menangis, saat seorang pasien wanita berusia kurang lebih 60 tahun diambang kematiannya, sang suami ibu tersebut masuk ke dalam ruang perawatan dengan wajah yang berusaha menahan kesedihan. Wajahnya begitu teduh, mirip dengan kakek saya yang sudah meninggal. Kemudian saya melihat sang ibu tua itu merintih kesakitan, saya jadi teringat pada ibu saya. Kalau ibu saya yang sakit seperti ini, pasti sedih rasanya. Tiba-tiba air mata saya keluar. Saya tidak sadar kalau seorang ibu perawat memperhatikan saya. Dia menegur saya agar tidak menangis. Dia mengatakan, seorang dokter seharusnya kuat melihat kematian, jangan bersimpati tetapi berempati.

Saya setuju dengan pernyataan yang terakhir. Tapi dokter juga manusia biasa. Seorang dokter atau perawat yang bekerja di ruangan seperti ini seharusnya bisa lebih banyak mengingat mati. Menangisi kematian pasien bukan berarti seorang dokter itu lemah, tapi itu menunjukkan adanya kepedulian. Salah satunya peduli pada kematian yang terjadi di depan mata. Peduli karena suatu saat nanti kita juga akan menghadapi kematian.

Tidak ada komentar: