Senin, 26 Januari 2009

Jaga terakhir di ROI

Tanggal 24 januari, pagi itu, jam 7.00 adalah saat terakhir saya sebagai dokter muda, setelah selama kurang lebih 4 hari dan 3 kali jaga malam saya habiskan di Ruang Observasi Intensif (ROI) sebuah ruangan tempat pasien2 yang cukup parah kondisinya. Jaga malam terakhir di bagian anestesi itu cukup berkesan. Semalaman saya benar2 tidak tidur karena mengawasi seorang bayi kecil yang terkena Bronchopeumonia + asma persisten, penyakit infeksi pada paru-paru dan disertai penyakit asma yang sering kambuh karena aktifitas ringan sekalipun. Sesak semalaman, maka saya dan teman jaga bergantian mengawasi oksigen yang membantu napasnya. Kami juga sesekali membetulkan posisi bayi tersebut agar tidak membuat aliran cairan infusnya macet lagi. Beberapa hari yang lalu bayi usia 8 bulan ini masih dibantu respirator karena begitu payahnya dia untuk sekedar bernapas hingga dinding2 dada dan cuping hidungnya terlihat mencekung dan kembang kempis saat mengambil napas. Kami menyebutnya distress napas. Tapi, dokter di ruangan mengambil keputusan untuk mencabut selang napasnya karena bayi tersebut terlihat sudah jauh lebih baik dua hari kemudian... Alhamdulillah.

Apa yang membuat saya berkesan?
Saya jadi teringat 7 bulan lalu, malam tanggal 9 juni 2008. Waktu itu saya masih di bagian pediatri. Saya dapat jaga shift malam di ruangan respirologi, tempat perawatan anak/bayi yang menderita penyakit terkait dengan saluran pernapasannya. Waktu itu kondisi yang saya alami mirip dengan jaga malam terakhir saya di ROI. Semalaman tidak tidur karena berkeliling mengawasi pasien yang semuanya masih bayi. Semua sama, bronkopneumoni dengan gejala sesak yang hebat. Semalaman bayi2 itu menangis. Saya ngga tega untuk memejamkan mata walaupun sebenarnya ngantuk sekali. Esok paginya, setelah jaga, saya masuk ROI karena cedera otak ringan (gegar otak) akibat terserempet motor saat menyeberang. Begitu pula yang menabrak saya, namun kondisinya ternyata jauh lebih parah dari saya. Kepala saya mungkin hanya membentur aspal saat pingsan. Mungkin salah saya juga, karena dalam kondisi ngantuk berat, saya pulang ke rumah dan tidak hati2 saat menyeberang. Tapi, saya bersyukur, kondisi saya baik2 saja sampai sekarang. Padahal pasien yang masuk ROI dengan diagnosa yang sama biasanya kondisinya lebih buruk dari yang saya alami. Saya pikir mungkin karena saya masih harus menolong bayi bronkopneumoni lain di ruangan yang sama tempat saya pernah dirawat. He..he..
Entahlah, selalu ada hikmah lain di balik setiap peristiwa yang dialami. Yang saya rasakan, saat akan meninggalkan bayi itu saya jadi khawatir. Jangan2 saat menyeberang jalan nanti, ada motor yang nabrak saya lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk menghilangkan rasa ngantuk saya dulu. Tidur di depan bayi itu sejenak. Saya ngga peduli ketika seorang residen bedah mentertawakan saya dan menyuruh tidur di kamar DM. Bahkan residen pediatri menyangka saya ibu bayi tersebut. Saya cuma tersenyum aja. Ah, saya memang terlalu khawatir.

Tidak ada komentar: